24 Oktober 2008

ke Bogor

Pagi ini harus menembus kemacetan. Macet di jakarta bukan hal yang aneh. Perjalanan dari Duren Sawit menuju Kuningan harus di lalui lewat Jalan Casablanka. Jalan yang pagi mulai jam 6 itu memang selalu macet. Rencana hari ini untuk mengantar bunda trainning travel lalu ke bank mengurus Token lalu ke naik Kereta Api Menuju Bogor yang memang sudah di rencanakan dari minggu lalu.

Sampai di rumah dengan jalan yang amat lancar karna kebalikannya, lau menerima SMS dari Bunda jika Trainningnya tidak jadi, di undur jam 1, padahal sehari sebelumnya bunda sudah konfirmasi via SMS bisa.

Menuju Stasiun Gambir melalui Jalan Pemuda, Pramuka lalu di lanjutkan ke Jalan Salemba Melalui Kramat dan Kwitang sangatlah menyenangkan, Saat melawai itu jalan yang biasanya di lewati dengan posisi AC mobil Full namun tetap berkeringat karna terpanggang panas dan macet, saat ini jalan relatif sepi, di warnai mendung dengan hujan gerimis kadang-kadang. Nikmat sekali berkendaraan di jakarta saat itu rasanya.

Stasiun gambir tidak terlihat lagi ramai seperti info mudik Lebaran karna saat ini memang setelah Lebaran. tapi memang yang aku tau suasananya memang seperti itu. Mengambil karcis mobil lalu memarkirnya di samping koridor jalan. Turun, berjalan sebentar menanyai patugas stasiun mana kereta ke Bogor. Loket satu KRL Expres Tujuan Bogor 11.46 berangkat, yang berarti lima menit lagi, setelah dibeli untuk bertiga dengan harga sebelas ribu rupiah dan menunjukan kepengawas, lalu disambut ekskalator .

Stasiun yang berlantai tiga di dominasi warna hijau muda itu diinformasikan menggunakan pengeras suara KRL Express Pakuan menuju Bogor akan masuk di jalur 3. Sebelum memasuki gerbong sambil memegangi tangan Avin yang girangnya bukan main karna memang baru pertama naik kereta api, aku melihat Monas dengan taman luasnya ditemani oleh awan yang menggelantung. Monumen Nasional itupun ditemani gedung-gedung janggung berbagai model, bentuk dan warna.

Ternyata, orang yang menaiki kereta itu beragam, melihat anak sekolah dasar dengan orang tua dan gurunya, Pegawai pemerintahan yang menggunakan baju seragam hingga berdua turis yang wanitanya memegang buku panduan perjalanan. Kereta itu tidak di sesaki penumpang dan cukup nyaman, walau duduknya harus berhadap-hadapan layaknya kita duduk di rel kereta api. Diatas tempat duduk ada rak tempat barang dan pegangan tangan bergelantung yang di gyunakan untuk penumpoang yang berdiri. Tempat duduk yang empuk dilapisi beludru memanjang di sepanjang gerbong itu tidak pernuh terisi. Tidak lama Stasiun Gondangdia sampai dan berhenti sebentar, rasanya tidak sampai satu menit lalu kereta berjalan lagi. Menyusuri setiap gerbong yang makin ke belakang makin sedikit penumpang itu membuat kita bisa memilih ingin duduk dimana saja.

Tidak berdesakan memasuki gerbong KRL itu, malah layaknya berkendara di jakarta saat lebaran. Hehhehe....karna dahulu pernah juga naik kereta api , sempit, bedesakan, naik saja susah karna yang bergelatungan harus turun dahulu baru penumpang yang akan naik bisa masuk. waktu itu masih kuliah rasanya, ke kampus UI.

Melewati Stasiun Gondangdia kereta melaju cepat, jalur kereta dari gambir menuju gondang ini melayang di udara, mirip jika kita di jalan TOL Cawang tanjung Priok. Dijendela, aku liat gedung perkantoran dan mobil yang melaju di jalan-jalan. Melihat manusia kecil itu kegirangan karna naik kereta api merupakan kesenangan tersendiri.

Tidak disadari kereta sudah berjalan layaknya mobil saja, sudah berjalan disamping rumah dan suara sinyal palang kereta api menutup jalan untuk mobil sering terdengar, sepertinya kereta akan melewati stasiun manggarai, karna terasa kecepatanya berkurang, jalannya melambat. Benar saja, Stasiun Manggarai dilewati, dibanding Stasiun Gambir dan Gondangdia , Stasiun Manggarai ini sangat besar, bangunan Belanda sangat banyak terlihat, dari model stasiunnya terasa sentuhan kolonial disana. Memang stasiun ini dari Zaman Kolonial Belanda sudah ada.
Namun, kesan kusam karna tuanya stasiun ini jelas terlihat walau kereta tidak berhenti. Dan lamat laun , kereta ini kembali menaikan kecepatannya. Kadang di dari jendala kita melihat jalan kendaraan mobil dan belakang rumah-rumah penduduk. Dari gambir menuju Stasiun Tebet melewati Trowongan. Avin Kaget kenapa tiba-tiba kereta gelap...yang tadi nya duduk jingkok menghadap jendela tiba tiba berdiri dan berkata "Wowongan....Wowongan....Wowongan...". Girang sekali mukanya. Sambil dipeluk cium bunda ia tersentak lagi karna ada kereta api di jalur sebelah berlawanan arah datang. Selepas stasiun Kalibata aku melihat Jalan Rawajati sebelah kiri. Jalan yang selalu aku lewati jika menuju ke kantor. Jalan Itu di ujungnya ada Palang Kereta api, jika menunggu naik motor antri menunggu kereta lewat, sering jalan sebelah kanannya diambil alih. Mengambil jalan yang berlawanan arah, tapi karna ada kereta yang mau lewat jalan itu sepi. Jadi kita bisa langsung antri di dekat rel kereta api. namanya juga naik motor, satu yang melanggar, ikut semua yang di belakannya. Justru selama melewati jalan Rawajati itu setiap kerja pake motor, belum pernah melihat ada kendaraan yang di tangkap polisi karna menyerobot Jalan itu. Tapi di ujung jalan itu ada yang di istilahkan Pak Ogah diJakarta, karna jika palang pemberhentian di buka, persimpangan jalan itu cukup rumit. Butuh orang yang mengatur, apalagi pagi jam berangkat kerja. terima Tips dari kendara yang dibantu itulah ia berdiri di persimpangan dekat palang kereta api itu. Justru, malah dia yang sering memarahi pengendara motor yang menyerobot tadi. Jadi jika naik motor berangkat kerja, melewati palang kereta api itu langsung di sambut oleh jalan Pasar minggu. Simpang Volvo umumnya orang tau, karna dari mulai menyebrang rel kereta sampai jalan raya pasar minggu itu adalah bengkel Volvo. Nah , kalo disana sering terlihat polisi dengan motornya.

Saat kereta yang dinaiki melewati Stasiun Pasar Minggu, sempet bingung juga memperhatikan dari jendela mana Stasiunnya, karna hampir mirip pasar semua. Celingukan kanan kiri mencari mana Stasiunnya. Jika jalan kekantor menggunakan motor, Stasiun itu di sebelah Kiri, dan ada kantor polisi kecil di dekatnya sedang terminal di sebelah kanan jalan dan Gedung bangunan Pasar Minggu Empat lantai terlihat hingga hilang memasuki Underpas didepan Pasar Minggu dan berjalan di bawah Rel Kereta api. Sementara menaiki kereta api, itu aku baru tau ternyata Stasiunnya bukan sebelah kanan, tapi sebelah kiri. Stasiun itu di dominasi dagangan layaknya Pasar.

Kereta ini tetap melaju tidak berhenti di Stasiun Pasar Minggu, terus menuju selatan melewati Stasiun Tanjung Barat , Lenteng Agung dan kampus Univ. Pancasila serta Univ. Indonesia. Memang kereta kelas terbaik yang melayani Jakarta Bogor ini tidak semua stasiun yang berhenti. Semenjak naik dari Gambir tadi, baru stasiun Gondangdia yg berhenti dan menaiki penumpang. Stasiun Depok menjadi tempat pemberhentian berikutnya. Stasiun Depok ini ada Dua, Depok dan stasiun Depok Baru. nah, di stasiun depok KRL ini berhenti, stasiun depok baru yang letaknya sebelah terminal ia tidak berhenti.

Saat kereta sudah hampir mendekati Stasiun terakhirnya yaitu Stasiun Bogor, pemandangan di jendela mulai tidak padat rumah, ada juga terlihat kebun dan rawa-rawa. Dan ada juga terlihat komplek-komplek perumahan baru. Sebagai kota penyangga jakarta, memang Bogor menjadi incaran kamum urban yang ingin hidup layak, namun dengan harga lebih terjangkau.

Saat kereta mulai menurunkan kecepatannya, saat avin dan bunda sedang melihat keluar jendela, tiba-tiba ada segerombolan anak-anak yang bermain di tepi rel kereta api itu melemparkan batu keras sekali ke arah gerbong. Bunyi yang keras akibat lemparan batu itu sangat jelas terdengar. Jelas batu itu mengenai dinding gerbong tidak jauh dr tempat kami duduk
Setiba di stasiun Bogor. Stasiun yang berdiri tahun 1881 dan sudah tentu banguna stasiun ini dibuat oleh kolonial belanda yang dahulunya Bogor, atw yg di sebut Buietenzorg

Tidak ada komentar: