8 September 2008

Warisan Si Beruang Gunung , 1992

Kalau seekor gajah mati meninggalkan gading, si Beruang Gunung mewariskan sebuah buku dan segudang ilmunya. Tidak aneh, karena si beruang gunung itu tidak lain adalah Norman Edwin. Sebuah nama besar di kalangan pencinta alam, yang menjadi kiblat keperkasaan dan semangat untuk tidak kenal jera “ menaklukkan” alam sekaligus mensyukuri keanggungan tuhan. Kepergiannya memang mengagetkan, tapi kesediahan tak akan ada artinya kalau warisan yang di tinggalkan disia-siakan.

Alam tidak selalu ramah menerima kehadiran para pendaki. Baik itu berupa gunung karang terjal maupun yang bersalju. Padahal untuk menyentuhnya orang harus bertaruh nyawa melakukan perjalanan panjang. Kalau mau yang bersalju, ya harus ke Utara atau ke Selatan.

Puncak gunung salju Aconcagua(6.966 mdpl) di benua Amerika Selatan, nyatanya memang ganas. Disinilah Norman Edwin dan rekannya, Didiek Samsu, dua dari lima anggota Tim Pendaki Tujuh Puncak Benua Mapala UI ( Maret-April 1992), harus mengakhiri petualangannya untuk selama-lamanya.

Mungkin orang awam menganggap kegiatan mereka seperti bercanda dengan maut. Padahal di balik setiap petualangan, persiapan yang matang sudah mereka lakukan. ”Factor keselamatan selalu di utamakan,” ujar Norman kepada Intisari beberapa waktu lalu. “ jadi tidak betul kalau di katakana para petualang ini mencintai kematian. Mereka bertetangga dengan maut justru karna mereka mencintai kehidupan”.

Si Beruang gunung ini sudah merasakan sendiri. Sebelumnya beberapa kali ia sempat mengalami kecelakaan dari yang pingsan karena kekurangan oksigen, terperosok masuk jeram, dan yang terakhir radang beku (frostbite ) sampai di amputasi ruas salah satu jarinya, sebelum ajal menjemputnya.

Karena dia tau persis deretan kerepotan sejak persiapan, kemungkinan terjadi kecelakaan dan penyakit gunung yang setiap saat bias menyergap para pendaki itulah, ia merasa terpanggil untuk membagi ilmu dan pengalaman dengan menulis buku, Mendaki Gunung: Sebuah Tantangan Petualangan.

“Maksud saya , kita yang mempopulerkan kegiatan pencinta alam ini apa salahnya meneruskan pengetahuan yang kita peroleh dari pengalaman itu. Seringnya terjadi kecelakan yang menimpa anak-anak muda pencinta alam itu karena mereka tidak begitu paham akan seluk beluk mendaki gunung,” ujar peria kelahiran Sungaigerong, 19 Januari 1955 ini.

Kalau kemudia Norman Edwin dan Didiek Samsu, harus menyerah pada ganasnya alam puncak Aconcagua, tentu bukan karena Norman pernah keceplosan ngomong, “ Kalau boleh milih, gua pengen mati di suatu puncak gunung yang sulit di capai orang” Juga bukan lantaran dia menganggap sepi tetek bengek persiapan matang yang mutlak dilakukan dalam suatu pendakian, seperti yang di beberkan dalam bukunya.

Kacamata buta

Agar bisa sukses menjejak puncak gunung es diperlukan mental baja dan semangat membara. Itu sudah pasti. Tapi jelas belum cukup. Teknik mendaki mesti dikuasai. Bekal dan perlengkapan jangan di sepelekan. Tak ketinggalan penyakit gunung harus dikenali. Itulah sebagian “ilmu mendaki” yang diambil dari buku warisan Norman Edwin yang pasti akan sangat berarti bagi para penerusnya atau siapa pun yang menyukai kegiatan pencinta alam.

Kita memang tidak punya Himalaya, pegunungan es yang legendaris itu. Ataupun, Aconcagua yang tengah jadi berita. Tapi, di Irian Jaya kita punya Pegunungan Jayawijaya. Ditengkuk pegunungan yang berpuncak 5.000-an Mdpl ini juga menghampar padang es.

Memang beda dengan Himalaya dan gunung es kaliber dunia lainnya. Medan Jayawijaya tergolong “Lumayan ringan” . disana tak ditemui tak ditemui tebing-tebing es ataupun tanjakan curam yang memerlukan pemanjatan. Hingga bahayanya tidaklah kelewat gawat. Biar begitu, bersiap diri lebih mantap sebelum mendaki gunung es tetap saja wajib hukumnya.

Rekahan –dangkal maupun dalam- di gunung es bisa tidak kelihatan. Tersamar oleh hamparan salju. Berjalan di medan seperti ini tampa tongkat pemandu tentu bisa celaka. Itulah perlu seorang pendaki gunung es membawa kapak es( ice axe ).

Kapak berbentuk huruf T ini berujung lancip. Mirip mata tunggal. Berguna untuk menjajaki adanya rekahan yang tertutup salju. Di ujung lain kapak es terdapat kepala bercabang.. yang satu berbentuk beliung , satunya lagi pipih dengan 4-5 takikan menyerupai mata gergaji.

Kapak es ini menggantikan tongkat pemandu. Untuk berjalan di gunung es yang dakiannya relative datar, macam di jayawijaya, lebih sip kalau memakai kapak sepanjang tongkat. Bagian T-nya yang dipegang, sambil ditusuk dipermukaan es. Untuk mengatahui kalau ada rekahan.

Selain tutup kepala, kaus tangan , dan pakaian tebal yang membungkus tubuh, seorang pendaki gunung es juga wajib mengenakan sepatu daki ganda (double mountain boot). Kombinasi antara sepatu empuk dari bahan kulit dan karet busa.

Agar tidak meluncur dipermukaan es, sepatu mesti dikombinasi dengan kelom paku (crampon). Macamnya ada dua. Biasa dan model capit kepiting. Yang biasa tajamannya ada 10 buah. Sementara yang capit kepiting ada selusin.

Untuk menghindari buta salju diperlukan kacamata salju berlensa gelap, yang mampu menghalangi 98% sinar ultraviolet dan infra merah. Biarpun kacamata khusus ini rapat menutup pelupuk , udara tetap bebas baku tukar. Lantaran ada ventilasinya. Gunanya, agar suhu didalam dan diluar kacamata terjaga tetap sama. Sehingga lensa bagian dalam tak sampai berembun.

Bahaya rekahan.

Di televisi kadang ada tayangan: tiga orang pendaki es yang saling menautkan tubuh dengan tali. Tentu saja mereka bukan main sepur-sepuran. Tali ini merupakan penyelamatan kalau ada salah seorang dari mereka terperosok.

Sebetulnya, bahaya terperosok bisa dihindari. Kalau batang kapak terus melesak kedalam es, itu berarti dibawahnya ada rekahan. Sebaiknya ambil jalan lain. Lebih lagi bagi pendaki pemula. Begitu juga kalau ada “jembatan es” diantara dua bibir rekahan.

Nekat sih boleh-boleh saja. Cuma, mesti disiapkan dulu sistim pengamannya. Kawan lain harus membuat kaitan yang disimpul hidup pada kapak dan sepatu (boot axe belay). Kapak ditancapkan sebatas leher T dan salah satu sepatu didekatkan ke kapak. Lantas, tali penghubung antar pendaki disimpulkan dua kali putaran pada kapak melintasi bagian atas sepatu.

Sewaktu salah seorang melintasi medan yang diperkirakan dibawahnya merupakan rekahan, bahkan mungkin jurang, tali diulur sebelumnya. Simpul dibuka kalau dia sudah sampai dimedan bebas rekahan. Selanjutnya, tibalah giliran orang pertama tadi yang menyiapkan simpul, lalu yang lainnya melintasi rekahan. Begitu seterusnya.

Teknik ini juga bisa digunakan untuk melintasi “jembatan es”. Tapi, sebaiknya berjalan merangkak agar berat badan terbagi merata keseluruh permukaan “jembatan es”.

Kalau, jarak bibir rekahan sempit saja, bisa diloncati. Sementara kapak es dipegang melintang di depan tubuh. Sebelum meloncat , tali digulung yang panjangnya diperkirakan memadai sehingga tali tidak sampai menahan tubuh sewaktu meloncat.

Medan yang dibayangi rekahan membujur didepan bisa dilalui sambil tetap berjalan berbaris. Bedalagi kalau rekahannya memanjang di sisi. Yang ini lebih aman kalau dilewati dengan berjalan zig-zag. Setiap pendaki secara selang-seling berjalan di sisi kiri dan kanan rekahan.

Pada lereng yang terjal pendakian bisa dilakukan dengan bantuan kapak es. Kapak ditancapkan kuat-kuat sedalam leher T, lalu kedua tangan berpegang tepat dibagian leher dan satu lagi digagangnya.

Lereng miring juga bisa ditempuh dengan Teknik takik (step cutting), terutama kalau permukaan es nya keras. Sebagai tempat berpijak di bentuk takikan-takikan. Besarnya kira-kira cukup buat sepatu. Cara yang sama juga bisa dipakai sewaktu menuruni gunung.

Kemungkinan tergelincir di padang es selalu ada. Kalau betul terjadi, kuasai diri. Jangan panik. Pegang kapak melintang didepan tubuh. Selain sebagai penyeimbang, kapak juga akan menjaga posisi tubuh agar tetap tegak.

Baik sekali kalau gigir kapak yang mirip mata gergaji itu ditekankan kepermukaan es (self-arest). Sehingga kecepatan luncuran bisa dihambat, bahkan dihentikan. Ini berguna untuk menghindari hentakan tali pada tubuh pendaki lain.

Sakit dingin tapi gerah.

Kematian pendaki gunung banyak yang disebabkan oleh hipertemia alias menurunnya suhu tubuh. Bukan lantaran suhu udara dipegunungan yang rendah. Tapi, karena pakaian yang basah. Akibatnya, kemampuan pakaian menahan panas badan merosot sampai 90%.

Anehnya biarpun suhu tubuh terus menurun, penderita di luar sadar justru merasa kegerahan (paradixal feeling of warmth). Gejala awalnya, menggigil dan gerakan jadi lamban. Kalau tidak secepatnya di tolong, ia akan meracau. Denyut nadi dan tekanan darahnya pun merosot.

Pertolongan pertama terpenting, penderita dijaga agar tidak sampai tertidur. Sebab, ia bisa gagal mengontrol panas badannya. Untuk sementara waktu ia di biarkan menggigil. Sebab gerakan refleks ini bisa membantu mempertahankan sisa panas badan.

Kalau mungkin ia di beri minuman manis yang hangat. Lantas dibaringkan di tempat tak berangin dan beralasi. Pakaiannya diganti dengan yang kering. Penderita lalu dimasukan ke dalam kantong tidur (sleeping bag) yang sudah di hangatkan. Caranya, kawan sependakian masuk dulu kedalam kantung tidur beberapa lama. Sebaiknya Cuma bercelana dalam atau malah bugil sama sekali, agar panas badan terserap secara efektif.

Hipoksia alias kesulitan mendapat oksigen banyak juga dialami pendaki. Inilah yang disebut “penyakit gunung” (mountain sickness) itu. Gejalanya mual, pusing, sesak napas, kedinginan, badan lemas, malas, muntah dan jantung berdebar. Kalau tak diacuhkan , tubuh makin pucat, dan kuku serta bibir jadi kebiruan.

Sebaiknya kegiatan pendakian dihentikan dahulu barang sehari dua hari sampai gejala tadi benar-benar hilang. Lebih baik lagi kalau penderita diangkut turun sampai 500-600 m dibawah ketinggian semula.

Ada juga Edema paru yang sering disalah tafrsirkan sebagai Hipotermia atau penyakit gunung. Memang antara “penyakit gunung “dengan Edema sebabnya bisa sama yakni , semangat mendaki yang kelewat menggebu. Sehingga pendaki kekurangan oksigen.

Gejalanya dada terasa sesak, batuk mula-mula kering lalu menjadi berlendir,dahak berdarah , mual, nafsu makan hilang, denyut nadi meningkat, nafas ribut, kuku-muka-bibir membiru. Menanganinya sama saja dengan “penyakit gunung”.

Kemungkinan terkena “penyakit gunung” dan Edema bisa dihindari. Asal pendaki berjalan tidak terlalu cepat. Setelah mencapai ketinggian 3300 Mdpal, sebaiknya istirahat sehari buat aklimatisasi(penyesuaian diri dengan iklim setempat).

Pakaian kurang tebal bisa membuat pendaki gununges terkena radang beku (frostbite). Biasanya jari tangan dan jari kaki yang terserang dulu. Kulitnya mengeras dan berwarna putih kelabu. Lama-kelamaan akan mati rasa total. Baik kulit, daging, maupun tulangnya. Kalau sudah begini tak ada jalan lain selain di potong.

Sebaiknya, begitu kulit sudah terasa beku, segera ditutup lebih rapat. Kalau mingkin diselipkan ke bagian tubuh yang lebih hangat. Bisa ketiak atau selangkangan. Mencegah tentu lebih baik. Yakni, dengan mengenakan pakaian salju yang tebal dan tidak bolong.

Snowblind alias buta salju bisa juga menyerang pendaki gunung es, biarpun sudah berkacamata salju. Mata akan terasa kering dan perih. Kalau dikedipkan, rasanya seperti berpasir. Kelopak mata memerah dan bengkak. Malah mungkin sulit di buka.

Asal tidak di gosok-gosok, buta salju bisa hilang dengan sendirinya setelahbeberapa hari. Cuma, kalau pas buta salju pendakian tetap dilakukan, kehati-hatian mesti ditingkatkan karma mata sedang kurang awas.; (majalah intisari edisi mei 1992.)


Turut Berduka cita

Atas meninggalnya dua pendaki gunung dan sahabat tercinta:

Norman Edwin ( Sungaigerong, 1955-Aconcagua, 1992)

Didiek Samsu ( Malang, 1962-Aconcagua, 1992)

dalam sebuah kecelakaan saat pendakian di puncak Aconcagua, Argentina, Amerika Selatan

( Maret-April 1992)


Tidak ada komentar: