Kalau anda berjalan-jalan disuatu daerah wisata tertentu, anda sering melihat wisatawan asing yang hanya berbekal ransel. Mereka ini diistilahkan sebagai ‘back packer’, atau turis yang hanya menyandang tas lalu berpergian dari suatu daerah wisata ke daerah wisata lain. Lantas, apa yang menarik dari mereka?, Bagi sebagian kalangan, mereka mungkin sama sekali tidak menarik. Bukan hanya kelihaannya menggelandang, mungkin juga dianggap turis “kelas bawah”.
Akan tetapi coba renungkan lagi. Kendati dianggap turis “kelas bawah”, yang jelas meraka dapat mengunjungi berbagai tempat wisata di berbagai negara. Dan boleh jadi, sebagian diantara mereka sudah pernah mengelilingi dunia. Padahal mereka bukan dari “kalangan atas” yang uangnya berlebih. Mereka, para turis “kelasa bawah “ itu , umumnya adalah pekerja kelas rendah di negaranya. Malah ada yang sopir truck atau pedagang kecil-kecilan. Lantas, bagaimana mungkin mereka bisa berwisata keberbagai Negara?
Lihat pula sekitar kita, cukup banyak yang setiap hari pergi kekantor mengenakan dasi, bekerja di perusahaan yang bagus dan memiliki gaji lumayan. Namun, ada diantara kalangan tersebut yang sulit berlibur, karna selalu tidak memiliki dana. Atau, bahkan untuk menyekolahkan anakpun masih sering meminjam uang ke kantor. Lebih kacau lagi, tagihan kartu kreditnya selalu membengkak. Dan setiap akhir bulan, kendati baru gajian, tetap saja merasa sakit kepala. Kenapa bisa demikian? Kenapa turis yang dianggap “kelas bawah” malah bisa berpergian dari satu negara ke negara lainnya. Padahal, penghasilan mereka bisa jadi lebih kecil dari kita atau orang-orang disekitar kita yang sepertinya selalu kekurangan uang.
Jawabannya sederhana. Jumlah uang yang dimiliki sebenarnya bukan merupakan hal utama. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana mendayagunakan uang tersebut. Kembali kepada para turis “kelas bawah” tersebut. Bisa dipastikan, untuk bisa memenuhi keinginan mereka mengunjungi berbagai negara, mereka sudah menyiapkan dana mereka jauh-jauh hari. Karna dananya terbatas, mereka tidak menginap dihotel bintang
Lantas bagaimana dengan anda? Dengan penghasilan yang anda miliki saat ini , jika anda hendak berwisata, tujuan anda hanya benar-benar berwisata atau plus lain-lainnya seperti mesti naik pesawat terbang, menginap dihotel bagus, dan lain sebagainya. Atau, ketika hendak memiliki mobil, sebagai alat transpotasi, maka keinginan anda adalah mobil yang bagus dan mahal? Dengan menganalisis hal sederhana seperti diatas, kita bisa mendapatkan jawaban, kenapa banyak orang selalu merasa tidak cukup uang dan tidak bisa mencapai tujuannya, sementara ada kalangan lain, termasuk para turis”kelas bawah” yang meskipun uangnya terbatas tetap bisa mencapai tujuannya.
Lantas, apa makna kisah diatas? Pertama, setiap orang sebenarnya bisa mencapai tujuan keuangannya asalkan mengunakan parameter diri sendiri sebagai ukuran. Artinya, ada penyesuaian antara kemampuan finansial dengan tujuan keuangan. Kalau hendak berwisata, sebagai misal, harus direncanakan jauh hari, dan dilakukan sesuai dengan kemampuan. Kedua, memahami makna kebebasan finansial secara lebih realistis. Banyak pihak beranggapan bahwa kebebasan finansial adalah tatkala seseorang tidak perlu lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan keuangannya. Namun uanglah yang bekerja untuk mereka. Dengan kata lain ada pasive income yang diperoleh yang kemudian digunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan. Ini tidak keliru. Tetapi ini adalah makna kebebasan finansial yang paling tinggi.
Lalu, bagaimana menuju kebebasan financial tersebut? Sederhana saja. Pahami diri anda. Kontrol diri anda dan disiplin dengan diri anda. Rancang apa saja tujuan keuangan anda dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Gunakan ukuran yang realistis dan masuk akal berdasarkan kondisi keuangan anda saat ini. Jika anda hanya mampu membeli mobil kijang sebaiknya jangan paksakan untuk membeli mercy. Sebab, anda akan terjerat dengan masalah finansial jika memaksakan diri. Itu contohnya. Lalu, alokasikan sebagian penghasilan anda untuk mengangsur kredit mobil jika anda membeli secara kredit. Disiplin dengan alokasi pengeluaran yang sudah direncanakan atau disiapkan. Pastikan tidak ada “penyimpangan” ataupun tambahan pengeluaran karna anda tiba-tiba memiliki keinginan baru dan tidak direncanakan. Hanya dengan cara seperti itu anda bisa mencapai kebebasan finansial. Itupun dalam skala yang paling rendah. Namun, mesti dingat, bagaimana mungkin anda bisa mencapai tangga kebebasan finansial yang tertinggi, yakni memiliki passive income, jika disiplin dengan alokasi pengeluaran yang sudah direncanakan pun anda tidak mampu, alias tidak bisa mencapai tangga yang paling rendah sekalipun dari tahap menuju kebebasan finansial. Ringkasnya, kebebasan finansial adalah untuk semua orang. Termasuk untuk anda , sepanjang anda mau mewujudkannya.

1 komentar:
duit...duit dimana-mana pasti jadi topik yang menarik..apalgi kalo dikasi duit hmmm semua orang pasti mau deh...seandainya duit tuh bisa beli tiket/karcis untuk masuk surga, gw pasti mau cari duit sebanyak itu dengan cara apapun....duit...duit
Posting Komentar